Kebutuhan Manusia Kepada Ilmu Adalah Kebutuhan Yang Mendesak


Kebutuhan Manusia Kepada Ilmu Adalah Kebutuhan Yang Mendesak
Bidgar Dakwah

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ : اَلنَّاسُ مُحْتَاجُوْنَ إِلَى الْعِلْمِ أَكْثَرُ مِنْ حَاجَتِهِمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ لِأَنَّ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ وَالْعِلْمَ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ بِعَدَدِ الْأَنْفَاسِ

Imam Ahmad berkata : Kebutuhan manusia kepada ilmu melebihi kebutuhan mereka kepada makan dan minum, sebab makan dan minum cukup sekali atau dua kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak hitungan nafas.

kebutuhan manusia kepada ilmu ini bersifat darurat, yakni kebutuhan yangsangat mendesak, bahkan lebih daripada kebutuhan tubuh manusia kepada makanan. Karena tubuh manusia membutuhkan makanan dalam sehari itu sekali atau dua kali atau mungkin tiga kali sehari, tetapi kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah adalah sebanyak tarikan nafasnya.

Jadi perbandingannya bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani manusia adalah terhadap makan, minum, atau pakaian untuk menutupi dirinya. Sebutuh-butuhnya dia makan dan minum, tetap dalam bilang yang terbatas, tidak mungkin juga dia makan setiap saat. Yakni seorang manusia jika makan sehari sekali, dia tetap bisa bertahan hidup.

Yang kedua adalah kebutuhan rohani atau jiwa manusia. Dimana dia butuh petunjuk Allah setiap saat, tidak bisa terlepas darinya. Karena manusia terdiri dari jasmani dan rohani, dan yang paling penting pada diri manusia dan inti pada diri manusia adalah rohaninya atau jiwanya. Sehingga di sini kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu melebihi daripada kebutuhan terhadap makanan dan minuman.

Oleh karena itu kita ketahui bersama ketika manusia kehilangan jiwa, maka dia tidak dikatakan sebagai manusia lagi meskipun dia mempunyai jasmani yang indah. Seindah apapun jasmaninya, kalau jiwanya mati, maka dia tidak akan disebut sebagai manusia lagi. Jadi manusia disebut dengan manusia ketika dia masih punya ruh atau masih punya jiwa.

Berarti kebutuhan manusia terhadap ilmu diatas kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Ini gambaran dari Imam Ahmad bahwa orang yang faham tentang ilmu agama. Memang karena ilmu agama itu berhubungan dengan kebutuhan jiwa atau kebutuhan hati, manusia tidak merasakan langsung sakitnya ketika kebutuhan ini kurang terpenuhi pada dirinya. Berbeda dengan anggota badan. Adapun

anggota badan ketika tidak makan maka akan lemas atau loyo badannya atau terasa kering tenggorokannya jika tidak minum atau mungkin sakit yangdideritanya. Karena berhubungan dengan badan ini sehingga orang lebih perhatian terhadap masalah ini.

Adapun yang berhubungan dengan kebutuhan hati atau kebutuhan jiwa, sebenarnya lebih menderita sakitnya dan lebih buruk keadaannya kalau tidak terpenuhi. Akan tetapi kenapa manusia kurang perhatian terhadap kebutuhan ini? Jawabnya adalah bahwa ini tipu daya setan.

Padahal sesungguhnya kalau kita mau merenungkan secara seksama, justru hati yang sakit, jiwa yang menderita ini lebih menyakitkan dibandingkan dengan sakit yang ada pada anggota badan manusia. Perumpamaannya seperti bagian bumi yang tidak terkena matahari, tidak ada kehidupan. Akan mati tanah yang tidak terkena matahari tersebut.

Maka kebutuhan manusia terhadap ilmu agama lebih daripada apa yang digambarkan tadi. Oleh karena itu hal ini menggambarkan kepada kita bahwa orang-orang yang hidup sesungguhnya adalah orang-orang yang mengisi kehidupannya dengan memahami dan mengamalkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan petunjuk RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hal ni menunjukkan keutamaan dan kemuliaan yang sangat besar bagi ilmu dan orang-orang yang mempelajarinya. (*Fahri)

Berita Terkait

Seminar Cakap Digital

Kominfo PD Persis Kota Bandung dalam rangka menindaklanjuti program hasil Musyawarah Kerja PD Persi...
Read