TANTANGAN, PELUANG DAN STRATEGIS DAKWAH PERSIS


TANTANGAN, PELUANG DAN STRATEGIS DAKWAH PERSIS

TANTANGAN, PELUANG DAN STRATEGIS DAKWAH PERSIS
(Da’wah Menuju Masyarakat Tauhid)
Oleh : Andri Mulyadi

A. PENDAHULUAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Apabila kita mencermati kondisi lingkungan sekitar kita, pasti akan kita prihatin. Kalau nurani kita masih bersih, pasti kita akan mengelus dada menyaksikan babak demi babak kehidupan yang kini berkembang betapa tidak, saat ini nyaris dalam seluruh sektor kaum muslimin terpuruk. Dalam segi aqidah banyak sekali umat Islam yang menganut keyakinan-keyakinan syirik, menyekutukan Allah, dalam hal ibadah. Perdukunan merajalela, penyembahan terhadap ahli kubur masih dilakukan, pengagungan yang berlebihan terhadap seorang tokoh masih banyak kita jumpai. Perilaku ini menurut syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, termasuk kategori syirik2

Kemudian dalam aspek politik, yang tampil hanyalah permainan yang keruh penuh rekayasa, dan retorika semu. Dalam bidang ekonomi sistem keuangan riba’ yang diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya adalah makin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial budaya kita disuguhi kebobrokan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya, dalam aspek teknologi, banyak sekali media-media yang menyuguhkan fasilitas kemaksiatan seperti semaraknya judi onlie dll Menyimak keadaan yang kita sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

ظَهرَ الْفسادَ فَ الْبَ والْبحرَ بِا َكسبتَ أَيدي النَّاسَ ليذيقهم بعضَ الذي عملوا لَعلهمَ يرجعون

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena ulah perbuatan tangan nafsu manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami sekarang ini.

B. TANTANGAN DAN PELUANG DAKWAH MASA KINI

Perubahan zaman yang semakin modern dan canggih telah mempengaruhi muslim dan non-muslim secara signifikan. Perubahan zaman juga mempengaruhi cara berfikir setiap orang. Secara global perubahan zaman juga menjadi tantangan tersendiri dalam dakwah Islam.

Ada beberapa tantangan global yang harus dihadapi dalam dunia dakwah, yakni:

1. Isu Globalisasi
2. Maraknya Migrasi
3. Adanya revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi
4. Persoalan eksplorasi alam semesta
5. Munculnya kajian-kajian evolusi genetika
6. Pendidikan di ranah publik dan literasi
7. Peningkatan pemahaman harkat dan martabat manusia 8. Adanya interaksi antar keyakinan
9. Konsep kesetaraan antar bangsa
10. Kesetaraan gender.

Tantangan para dai pada modern ini memanglah banyak. Namun hal tersebut juga berbanding lurus dengan peluang atau kesempatan bagi dakwah Islam. Menjawab tantangan itu, Islam harus membuat strategi dakwah yang berbasis pada nilai-nilai tauhid (dan bukan hanya sekedar berbasis pada pemanfaatan teknologi modern. Seperti pemanfaatan jejaring sosial (social network), website, aplikasi-aplikasi mobile, dan sebagainya, termasuk pada pemberdayaan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, Telegram, Instagram untuk media dakwah, yang manfaatnya cukup luas ; lintas sekttoral dan lintas geografis)

C. STRATEGI DAKWAH; BERBASIS NILAI-NILAI TAUHID

Memang,ummat dan bangsa ini sedang berada dalam bahaya besar. Kerusakan telah menyebar dalam berbagai tempat dan waktu. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kanapa semua ini bisa terjadi?Dan bagaimana cara mengobatinya berdasarkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala ?

Pertanyaan pertama, yakni, kenapa kerusakan-kerusakan itu bisa terjadi, jawabnya adalah karena ummat ini terputus dari tuntunan agamanya. Ya, sudah sekian lama, ummat Islam ini jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Ada jarak antara ummat di satu sisi dengan ajaran Islam di sisi lain, sehingga kehidupan sehari-hari kaum muslimin sama sekali tidak mencerminkan ajaran agamanya. Bahkan, adakalanya ummat Islam merasa asing terhadap nilai- nilai dien-nya sendiri. Satu contoh kasus, misalnya masalah hijab bagi kaum wanita. Kaum wanita yang menutup aurat malah dikatakan sebagai orang yang nyeleneh.

Padahal sebenarnya merekalah yang justru melaksanakan perintah Allah. Kondisi ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

:بَدَأَاِْلإسلاَمَ َغِريباوسيعودَ َغِريبا َكمابَدَأَفَطوبََلِْلغربَِءَ.

“Islam itu pada mulanya asing, dan nanti akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka beruntunglah orang yang asing.”

Sekarang ini pun tengah menggejala dikalangan kaum muslimin sebuah paham yang biasa disebut sebagai sekulerisme (‘ilmaniyah). Paham ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia harus dipisahkan dari masalah agama. Menurut mereka, dunia ya dunia, jangan bawa masalah agama. Soal agama adalah soal pribadi. Oleh karena itu, menurut paham ini, dalam masalah hubungan sesama manusia, seperti cara bergaul, cara berpakaian maupun cara berekonomi cukup diserahkan pada rasio atau akal manusia saja. Sehingga, merekapun menyombongkan diri dengan meninggalkan ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Ajaran sekulerisme inilah yang menjadi tantangan kita dewasa ini. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al-Misri 5dalam kitabnya. Menurut beliau, cara hidup sekuler jelas sekali bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid. Sekulerisme (‘ilmaniyah) berusaha menegakkan kehidupan di dunia tanpa campur tangan agama, atau yang lazim disebut La diniyyah . Sehingga tata kehidupan yang mereka bangun bukanlah tata kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah Subhannahu wa Ta'ala

Dengan kata lain, sekulerisme berhukum dengan aturan-aturan selain Allah. Padahal Allah Subhannahu wa

Ta'ala berfirman:

أَفَح ْكمَ ا ْلْاِهلِيَِّةَ يبغوَنَ ومنَ أَحسنَ ِمنَ اللهَِ ح ْكما لََِقومَ يوقِنوَنَ

Artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Dalam tafsir Ibnu Katsir di sebutkan (tentang ayat ini):

“Allah Subhannahu wa Ta'ala mengingkari setiap orang yang keluar dari hukumNya yang jelas, yang meliputi segala kebaikan dan melarang segala kejelekan, lalu berpaling kepada pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah- istilah yang diletakkan oleh manusia tanpa bersandar kepada syari’at Allah. Seperti sikap kaum jahiliyah dahulu yang berhukum dengan hukum yang menampakkan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri berdasarkan pikiran-pikiran mereka dan hawa nafsu mereka. 7

Padahal, tauhid yang merupakan fondasi agama Islam, merupakan sebuah keyakinan yang menyandarkan seluruh aspek kehidupan hanya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Menurut Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu,8menyatakan bahwa yang dimaksud tauhid adalah mengesakan Allah dengan beribadah. Di mana Allah Subhannahu wa Ta'ala menciptakan alam semesta ini tidak lain hanyalah agar beribadah. Firman Allah:

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembahKu.”

Bahkan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menegaskan bahwa tauhid merupakan salah satu syarat diterimanya amal seseorang. Artinya, tanpa keberadaan tauhid, amal seberapa pun banyaknya tidak akan diterima Allah.

 

Jelas sekali, bahwa kehidupan sekulerisme yang kini meng-gejala dengan kebebasannya, amat bersebrangan dengan tauhid, fondasi ajaran agama kita. Oleh karena itu kita semua harus waspada terhadap konsep hidup sekuler itu.

Kemudian, bagaimanakah solusinya, bagaimanakah menye-lesaikan serangkaian problem-problem yang kita bicarakan tadi? Bagaimana agar kita bisa keluar dari fitnah yang begitu banyak tersebut?

Resepnya tidak ada lain kecuali kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam. Sebab, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. Sebagaimana jaminan Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam,

َعِنَابِْنََعبَّاسََرِضَىَاَّللََّعْنهَما:أََّنََرسوَلَاَّللَِّ-صلىاللهعليهوسلم- َخطََبَالَّناَسَِفََحَّجِةَالَْوَداِعَفََقاََل:«َيَ

أَيها النَّاسَ إنَ قدَ تركتَ فيكمَ ما إنَ اعتصمتمَ بهَ فلنَ تضلوا أَبدا كتابَ اللَّ وسنَّةَ نبيهَ »

Dari Ibnu ‘Abbas-ra- sesungguhnya RAsulullah SAW berkhutbah kepada orang-orang pada haji wada’ maka beliau bersabda “wahai manusia sesungguhnya aku sungguh aku tinggalkan pada kalian, apa-apa yang jika kakian berpegang (teguh) maka kalian tidak akan sesat selamanya ; (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Nabi.11

Melalui langkah ini ada jaminan yang kuat bagi kita untuk menyelesaikan berbagai kemelut yang menimpa kita. Terlebih kita diberi tahu oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam terkait dengan cirri-ciri kondisi zaman disertai dengan langkah solusinya melalui dialog Belaiu dengan hudzifah ibn yaman :

Hudzaifah bin yaman berkata. Adalah orang2 bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang kebaikan. Sedangkan keadaan-ku akan menanyakannya tentang keburukan2. Karena takut menimpa kepadaku. Maka aku bertanya : “Ya Rasulullah. Sesungguhnya keadaan kami (pernah engalami) masa jahiliyyah dan keburukan-keburukan. Lalu Allah Ta’ala endatangkan kepada kai dengan kebaikan2. Maka apakah setelash kebaikan ini akan adalagi keburukan. (Rasulullah) menjawab : benar (aka nada keburukan). Aku bertanya lagi, dan apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan, (Rasulullah) enjawab : benar, naun disana ada dakhan. Aku bertanya apa itu dakhan? Beliau menjawab : ada sebuah kau yang memberikan petunjuk tapi bukan dari petunjukku. Kau mengenal mereka tapi kamu mengingkarinya. Aku bertanya lagi, Maka apakah setelash kebaikan ini akan adalagi keburukan. (Rasulullah) menjawab : benar (akan ada keburukan), akan ada da’I-da’I dipintu neraka jahannam. Siapa saja yang memenuhi seruan mereka, maka mereka pasti akan menjerumuskannya kedalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, terangkan sifat mereka kepada kami. Beliau menjawab : Mereka dari kulit kita dan bertutur kata dengan lisan kita. Aku bertanya : apa yang akan engkau perintahkan kepadaku seandainya sampai zaman itu kepadaku. Beliau menjawab : Pertahankan kesatuan umat islam (yang berpegang teguh al-quran dan as sunnah) dan imamnya. Aku bertanya : Kalau tidak ada jama’ah dan imamnya? Beliau menjawab : Tinggalkan semua kelompok yang sesat itu, walau kamu harus menggigit akar pohon sampai datangnya kematian kepadamu, kamu tetap dalam keadaan seperti itu (Shahih al-Bukhari Kitab al-Fitan Bab : Kaifa al-amru idza lam takun jama’ah wala imam)

 
 

Oleh karena itu, untuk mengobati kondisi ummat yang seperti sekarang ini, tidak bisa tidak, kita harus memulai sebagaimana Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam membina ummat. Masalah tauhid, harus dibenahi terlebih dahulu, sebelum urusan-urusan lainnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

خيَ النَّاسَ قَرنَ ثََّ الذينَ يلوَنَمَ ثََّ الذينَ يلوَنَمَ

“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orangsetelah mereka”.12

Sebagaimana saya sebutkan diatas, bahwa tauhid adalah fondasi agama Islam. Maka kalau fondasi ini roboh, roboh pula bangunan Islam yang lain. Sebaliknya, kalau tauhid ummat ini kuat berarti fondasi yang menopang seluruh bangunan Islam itu pun kuat juga. Dengan demikian menda’wahkan tauhid merupakan masalah yang sangat strategis bagi upaya membangkitkan kembali ummat ini. Upaya-upaya untuk membangun kembali umat Islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa fondasi. Sia-sia belaka. Oleh karena itu, pembinaan tauhid harus menjadi program yang harus diprioritaskan oleh seluruh kalangan kaum muslimin ini. Pembinaan tauhid harus disosialisasikan kepada seluruh ummat. Sehingga mereka memahami jalan kehidupan yang benar, meninggalkan pola hidup yang bengkok.
Dalam hadits yang disebutkan, Ibnu Mas’ud berkata:

خطَ رسولَ اللهَ خطا بيدهَ ثََّ قَا َلَ ه َذا سبيلَ اللهَ مستَقيما وخطَ خطوطًا عنَ َيَينهَ وشِاله، ثََّ قَا َلَ هذهَ ال ُّسبل

لَيسَِمْنهاسبِيلَإِلاََّعلَيِهَ َشيطَانَيْدعوَإِلَيِهَ.ثََّقَرَأَقَولَهَتَعاَلَ:وأََّنَهَذاِصراِطيمستَِقيمافَاتَّبِعوهَولاَتََّتبِعواالُّسبلَ

فَتََفَّرَقَ بِكْمَ َع ْنَ َسبِيلِِهَ َذالِكْمَ َو َّصاكْمَ بِِهَ لََعلَّكْمَ تَتَّقوَنَ.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membuat garis dengan tangannya, seraya bersabda kepada kami: “Ini jalan Allah yang lurus.” Dan beliau membuat garis-garis banyak sekali dikanan kirinya, seraya bersabda: “Ini jalan-jalan yang tak satu pun terlepas dari intaian syetan untuk menyesatkan”. Kemudian beliau membaca ayat 153 surat Al-An’am: “Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalanKu yang lurus. Maka ikutilah dia. Dan janganlah kamumengikuti jalan-jalan yang lain. Karena jalan-jalan lain itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

Marilah kita mempelajari Islam ini dari landasannya yang paling asasi yakni tauhid. Marilah kita hidupkan mempelajari tauhid dalam kehidupan beragama kita sebelum yang lain-lainnya.

D. KESIMPULAN

  1. Bahwa kondisi ummat yang carut marut sekarang ini; banyaknya kesyirikan dan bid’ah, merebaknya budayasekulerisme (kehidupan tanpa tuntunan agama), meggejalanya berbagai fitnah dan lain sebagainya

  2. Kondisi tersebut hanya bisa di atasi dengan kembali kepada sumber ajaran kita yang murni yakni Al-Qur’andan Sunnah.

  3. Strategi awal berda’wah dalam membangun masyarakat adalah dengan menanamkan tauhid.

  4. Inti dari dakwah para rasul, yaitu mengetahui dan mengamalkan tauhidullaah.

Oleh karena itu, sudah waktunya meraih kembali jalan kebenaran tersebut. Sudah lama kita terperosok dalam lubang kebodohan. Kita terlalu sering mengulang kesalahan serupa. Solusinya adalah kita pelajari kembali Islam ini dari masalah tauhid. Melaui keilmuan yang kuat, seperti pembelajaran di Pembinaan Kejam’iyyahan ini.
Semoga Allah membimbing kita semua. Amin.

والله اعلم بَلصواب

Berita Terkait