API DI JALANAN, LUKA DI HATI RAKYAT: SAAT NEGARA ABAI PADA KEADILAN


  • Date : 31 August 2025
  • Category: HIMI

Ditulis oleh: Aida Nurrohmah

Kematian Affan Kurniawan dan keputusan DPR menaikkan tunjangan di tengah krisis bukan hanya berita, melainkan simbol kegagalan negara membaca denyut nadi rakyatnya. Demonstrasi yang saat ini terjadi adalah bahasa perlawanan –teriakan lantang yang muncul ketika kata “adil” hanya tinggal retorika di bibir penguasa.

Demonstrasi yang meletus di berbagai kota bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri atau sekedar kerusuhan spontan. Dua faktor kunci yang menjadi pemicu adalah: tragedi kematian Affan Kurniawan yang diduga akibat tindakan represif aparat, serta kontroversi tunjangan DPR yang dianggap tidak etis di tengah kondisi ekonomi rakyat yang kian menekan. Dua peristiwa ini berpadu menjadi percikan api yang menyulut amarah publik.

Tragedi Affan merepresentasikan kegagalan negara dalam menjamin keamanan warganya. Aparat yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung justru dipersepsikan sebagai ancaman. Dalam perspektif hukum, kasus ini menuntut investigasi yang transparan dan akutabel. Dari sisi sosial, luka yang ditinggalkan bukan hanya pada keluarga korban, melainkan juga pada kepercayaan publik terhadap instansi negara.

Demonstrasi mahasiswa dan masyarakat luas adalah bentuk artikulasi politik jalanan ketika saluran formal tidak lagi dianggap memadai. Protes semacam ini merupakan mekanisme koreksi sosial, tanda bahwa demokrasi masih hidup. Namun, eskalasi yang berujung pada insiden banyaknya pembakaran gedung sekaligus memperingatkan bahwa kemarahan publik bisa bertransformasi menjadi destruktif ketika negara gagal merespon dengan bijak.

Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret. Demonstrasi yang terjadi harus dibaca sebagai alarm, bukan ancaman. Ia adalah pengingat keras bahwa legitimasi negara hanya bisa bertahan selama rakyat masih percaya. Dan kepercayaan itu tidak dibeli dengan tunjangan, melainkan ditegakkan dengan keadilan.. Tanpa itikad baik dari pemerintah, gelombang protes akan terus berulang. Sebab, pada hakikatnya mahasiswa dan rakyat tidak menuntut kemewahan, melainkan: KEADILAN YANG NYATA.