Duka Aceh dan Sumatra: Antara Bencana (Tidak) Nasional dan Krisis Iklim (Tersembunyi) Di Tanah Tropis


  • Date : 24 December 2025
  • Category: HIMI

Oleh : Salma Nursabila S.

Bencana banjir bandang dan longsor telah menerjang sejumlah daerah di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat di penghujung November 2025. Kabar ini menyedot perhatian penuh masyarakat nasional karena dampak yang ditimbulkan sangat meluas. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan, mengapa dampak bencana ini sangat besar? Dan apa yang sebenarnya terjadi di tanah Sumatra? Para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menilai fenomena banjir bandang dan longsor ini bukan hanya sebagai bencana alam biasa melainkan kombinasi faktor atmosfer/hidrometeorologi, kondisi geospasial, dan kerusakan lingkungan yang telah terjadi di tanah Sumatra. Lantas, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Bencana hidrometeologi di balik Siklon Tropis

Tanah Sumatra dikenal dengan curah hujan yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Tanah Sumatra secara geografis terletak dekat garis ekuator dan memiliki topografi (bentuk permukaan tanah) pegunungan bukit barisan. Lalu, terdapat pergerakan angin muson barat yang membawa banyak uap air dari Samudra Hindia ke daratan Sumatra. Selain itu curah hujan di Sumatra juga di pengaruhi siklus hujan ganda sehingga pola hujan terjadi sepanjang tahun atau terdapat dua puncak hujan dalam satu tahun. Tak berhenti sampai disana, curah hujan semakin menjadi ekstrem dengan adanya siklon tak biasa yang dikenal dengan sebutan siklon tropis senyar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebenarnya per 26 November 2025 telah memantau Bibit Siklon 95B. Bibit Siklon itu berada di kawasan Selat Malaka, bagian timur Aceh yang kemudian berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar. Siklon ini bergerak ke arah barat menuju wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam dan berpotensi mendatangkan hujan yang sangat lebat hingga ekstrem disertai angin kencang di wilayah sekitarnya. Bukan sekadar angin kencang saja, namun terdapat kenaikan suplai uap air yang sangat besar dari laut hangat di Selat Malaka yang dapat meningkatkan akumulasi awan konvektif sehingga hujan ekstrem mengguyur wilayah pesisir Aceh dan Sumatra Utara. Tak selesai sampai disana, hujan ekstrem juga menjalar ke Sumatra Barat dan bahkan meluas hingga Malaysia dan Thailand Selatan.

Deforestasi di wilayah Sumatra

Fenomena banjir bandang disertai hanyutnya kayu-kayu gelondongan kembali mengundang sebuah tanya besar di balik bencana ini. Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), tercatat selama periode 2016 hingga 2025, seluas 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah terdeforestasi akibat aktivitas 631 perusahaan pemegang izin tambang, HGU sawit, PBPH, geotermal, izin PLTA dan PLTM. Kerusakan lingkungan ini memperparah banjir di Sumatra karena menyebabkan perubahan drastis pada proses penyerapan air hujan atau infiltrasi.

Perubahan drastis yang dimaksud yakni perubahan tutupan lahan -yang semula lahan hutan akhirnya kehilangan lapisan kanopi (payung daun) disebabkan deforestasi tinggi dan alih fungsi lahan menjadi sawit menyebabkan peningkatan erosi pada tanah. Tanpa payung daun yang menahan laju air hujan, tetesan hujan akan langsung menghantam permukaann tanah dengan kekuatan penuh dan menyebabkan erosi tanah. Selain itu akan terjadi penurunan daya serap -yang semula hutan dengan akar yang mampu menyerap maksimal air hujan, tanpa adanya akar pohon ini mengakibatkan air sulit meresap ke tanah dan menyebabkan cadangan air tanah menurun sehingga berpotensi menyebabkan kekeringan selama musim kemarau.

Ketika hujan deras turun di wilayah Sumatra dengan tanpa adanya penyerapan air oleh tanah maka akan menyebabkan peningkatan aliran permukaan (runoff) secara signifikan. Air hujan yang tidak diserap tanah akan mengalir seluruhnya ke sungai dengan jauh lebih cepat. Kombinasi permasalahan itu akan meningkatkan volume air yang mengalir ke sungai dalam waktu yang singkat. Jika kapasitas sungai tidak cukup untuk menampung debit air maka akan sangat meningkatkan risiko banjir bandang.

Perlu ditetapkan sebagai Bencana Nasional

Lebih dari tiga pekan telah berlalu sejak terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor di tiga wilayah di Sumatra. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyampaikan data terbaru korban bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumbar, dan Sumut dengan jumlah korban tewas saat ini menjadi 1.090 orang per Minggu (20/12/2025). Adapun jumlah korban hilang saat ini menjadi 186 orang dan pengungsi masih 510.528 orang. Selain itu, bencana ini juga menyebabkan kerusakan yang meluas dan parah di berbagai aspek meliputi pemukiman penerangan, infrastruktur, jaringan transportasi, pun juga kerugian ekonomi yang besar. 

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir tahun 2025 memenuhi semua indikator untuk ditetapkan sebagai bencana nasional. Indikatornya diantaranya: 1) Jumlah korban jiwa, korban jiwa saat ini mencapai lebih dari 1.090 orang; 2) Tingkat kerugian harta benda, diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah; 3) Kerusakan prasarana dan sarana, telah terjadi kerusakan yang sangat parah dengan lebih dari 158.000 rumah rusak serta ribuan titik infrastruktur dan 2.058 km jalan nasional lumpuh; 4) Cakupan wilayah yang terdampak, bencana ini mencakup wilayah sangat luas meliputi 50 kabupaten/kota di tiga provinsi; serta 5) Dampak sosial ekonomi, terjadi dampk yang signifikan dengan lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak dan hampir satu juta orang mengungsi.

Berdasarkan data kerusakan dan dampak yang sangat masif, penetapan status bencana nasional harus segera dilakukan karena bencana di Sumatra telah melampaui kemampuan dan sumber daya pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) untuk menanganinya secara mandiri. Status bencana nasional akan membuka akses terhadap mobilisasi penuh sumber daya nasional, baik dalam bentuk anggaran darurat dari APBN, pengerahan personel bantuan dari berbagai kementerian/lembaga pusat, maupun koordinasi penanggulangan yang terpusat dan efektif,serta dapat membuka akses bantuan internasional yang akan mempercepat proses pemulihan pasca bencana. Respons yang cepat di tingkat pusat terkait  penetapan status ini sangat krusial untuk mempercepat proses evakuasi, penyaluran bantuan logistik, pemulihan layanan dasar, dan rekonstruksi infrastruktur yang lumpuh, sehingga krisis kemanusiaan dan ekonomi tidak semakin memburuk.

Duka mendalam yang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi pengingat akan kerapuhan hidup di tengah ancaman krisis iklim yang nyata. Semoga seluruh masyarakat terdampak diberikan kekuatan, ketabahan, dan kemampuan untuk bangkit kembali dari keterpurukan ini. Lebih dari sekadar simpati, bencana ini adalah teguran keras bagi kita semua—dan terutama bagi pemerintah—agar meninggalkan sikap lamban dalam penanganan bencana dan mitigasi iklim. Hal ini mencakup evaluasi ulang kebijakan, khususnya terkait izin pembukaan lahan yang sering kali menyakiti hutan. Praktik eksploitatif semacam ini terbukti secara langsung memperparah risiko bencana hidrometeorologi. Kini saatnya kesadaran kolektif kita terbangun, ‘Menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak demi keberlanjutan hidup’.

-

Bencana yang terjadi menyisakan duka dan kebutuhan yang mendesak. Mari kita hadir sebagai harapan dengan menyalurkan bantuan terbaik kita.

No. Rek: 7289804597 (BSI)
a.n LAZ PERSIS KL Kota Bandung

Konfirmasi & informasi penyaluran: +62 838-9662-0093

Setiap rupiah yang kita titipkan, insyaAllah menjadi jalan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan. Terima kasih atas doa dan kepeduliannya.